Sunday, November 21, 2010

Aku MAU..sepenggal kisah Kartini..


 “Aku mau” dan dua kata sederhana itu telah membawaku melewati gemunung kesulitan. Aku tidak mampu, menyerah. Aku mau mendaki gunung itu. Aku tipe orang yang penuh harapan, penuh semangat. Jagailah selalu api itu! Jangan biarkan dia padam. Buatlah aku selalu bergelora, biarkan aku bersinar, kumohon. Jangan biarkan aku terlepas.
Sepenggal surat Kartini yang pernah kubaca. Kartini: satu tokoh epik dan tokoh tragik sekaligus. Dalam berbagai segi ia memenuhi syarat untuk itu: perempuan rupawan, cerdas, perseptif, pemberontak tapi juga anak bupati jawa, penuh cita-cita pengabdian tapi juga lemah hati, dan sementara itu terpojok, kecewa, terikat, dan akhirnya meninggal dalam umur  24 tahun.
Pemikir feminisme awal di Indonesia. Bukan karena gagasan feminisme maka Kartini ada, tetapi karena Kartini ada, maka ia seorang feminis.
Dengan segala kompleksitas cengkeraman feodalisme dan penjajahan yang begitu kuat , Kartini-yang hanya menikmati bangku sekolah rendah saja-mau dengan susah payah mampu menyikapi kondisi ini secara positif. Ia mau menanggapi panggilan hatinya yaitu untuk turut menyingkap kabut yang menimpa tidak hanya dunia kaum perempuan namun juga keterbelakangan dan kebodohan bangsanya.
Karena kemauan Kartini yang kuat itu, banyak hal menjadi keprihatinannya, dari sinilah lahir gagasan-gagasan ideal yang kemudian membawa Kartini untuk berperan. Salah satu pokok perjuangan Kartini terletak pada pertentangannya terhadap poligami. Memang Kartini juga sangat berperan dalam memperjuangkan untuk mendapatkan akses pendidikan bagi perempuan jawa. Namun disini aku ingin bercerita tentang perjuangannya menolak poligami.
Kita mengenal sosok Kartini hanya sebatas sebagai pejuang emansipasi perempuan. Kartini jarang diperbincangkan dalam lingkup yang lebih vareatif dan jarang dilihat sebagai pejuang masyarakat secara umum. Padahal kalo kita mau menelaah sedikit dan mendalami pikiran-pikiran Kartini ternyata banyak pikirannya yang masih terdengar amat keras di zaman ini. Lepas dari kegagalan Kartini yang pada akhirnya kembali kepangkuan adat. Dalam dunia internasional, Kartini adalah orang besar, terbukti dari banyaknya kajian atas gagasan-gagasannya dan karya terjemahan surat-suratnya dalam berbagai bahasa. Namun sayang dikalangan bangsanya sendiri Kartini tidak dikenal.  Generasi muda Kartini hanya hadir sebagai mitos. Bangsa yang tidak bisa menghargai bangsanya sendiri ya beginilah akhirnya..semrawut!!
Dalam kesetaraan gender, disebagian muslim kepeloporan Kartini belum bisa dimengerti. Konon jauh sebelum Islam masuk, tradisi bangsa kita sudah menempatkan perempuan dalam posisi yang selalu di bawah. Dengan masuknya Islam makin memperburuk keadaan perempuan yang sebelumnya memang sudah terpuruk oleh tradisi. Ajaran Islam malah menjadi legitimasi bagi superioritas laki-laki-dalam hal ini poligami. (hanya bercerita tak ada maksud memperburuk agama apapun)
…aku tidak akan pernah, tidak akan pernah bisa mencintai. Bagiku, untuk mencintai, pertamakali kita harus bisa menghargai pasangan kita. Dan itu tidak kudapatkan dari seorang pemuda jawa. Bagaimana aku bisa menghargai seorang laki-laki yang sudah menikah dan sudah menjadi seorang ayah?yang hanya karena dia sudah bosan dengan istrinya yang lama, dapat membawa perempuan lain ke rumah dan mengawininya? Ini sah menurut hukum Islam. Kalau seperti ini, siapa yang tidak mau melakukannya? Mengapa tidak? Ini bukan kesalahan, tindak kejahatan ataupun skandal. Hukum Islam mengizinkan laki-laki beristri empat sekaligus. Meski banyak orang mengatakan ini bukan dosa, tetapi aku, selama-lamanya akan tetap menganggap ini sebagai sebuah dosa…
Begitu lugas, tegas, dan langsung pada sasaran cara Kartini melontarkan pandangannya. Dalam hal ini agama disalahgunakan untuk praktek birahi laki-laki. Bahkan menurut tradisi jawa perempuan masih dianggap sebagai “konco wingking”. Tentu saja untuk ukuran zaman sekarang, poligami adalah salah satu cermin keterbelakangan dan manifestasi dari tradisi yang buta.
Perjuangan Kartini yang seharusnya menjadi angin segar bagi kehidupan perempuan ternyata bermakna lain. Kegagalan Kartini yang pada akhirnya tidak berdaya, pulang dari medan perang kepada pangkuan tradisi poligami yang seharusnya dipahami sebagai torehan luka dalam rotasi sejarah bangsa kita malah dimaknai sebaliknya. Bagi mereka, kegagalan Kartini menjadi bukti konkret ajaran jawa gething nyandhing dan alok nemplok -barang siapa yang membenci sesuatu atau seseorang secara berlebihan pada akhirnya sesuatu atau seseorang yang dibenci itu akan berbalik menimpa dirinya sendiri .
Sosok Kartini hadir menjadi seorang yang istimewa, seorang pribadi yang berani mengemukakan pendapat dan mengambil kesempatan yang ada. Ia mau dan berani mengambil sikap walaupun berada di tengah kondisi sosial politik yang tidak bersahabat-terlebih bagi kaum perempuan-saat itu.
Kesetaraan gender ternyata sudah hampir berabad lalu diperjuangkan. Memang sudah mulai terlihat pada zaman modern ini. Perempuan sudah mulai dihargai kecuali dalam hal poligami. Poligami akan tetap ada ketika laki-laki masih mengagung-agungkan kepuasan birahinya dengan dalil agama. Aku sering bertanya pada diriku sendiri: apakah agama merupakan sebuah rahmat kalau prakteknya malah seperti ini? Kata orang, agama akan menjaga kita dari perbuatan dosa, namun berapa banyak dosa yang telah diperbuat atas nama agama.
Bukankah poligami merupakan sebuah dosa besar. Menyakiti hati orang lain, itu merupakan dosa besar bukan? Apalagi untuk seumur hidup…bullshit !! perempuan yang bilang ikhlas ketika dimadu. Perasaan tersakiti itu akan tetap ada.
…Aku bisa menjadi orang baik tanpa harus menjadi religius kan? Yang paling penting adalah menjadi orang baik. Aku sungguh ingin menjadi perempuan modern dan independen, yang melangkah dengan percaya diri dalam hidup, ceria dan kuat, antusias dan punya komitmen, dan terkadang menjadi pemberontak dan egois. Egois untuk mempertahankan apa yang aku punya.

No comments:

Post a Comment